![]() |
Sebuah panggung pertunjukan yang menyerupai Candi |
Selepas beberapa hari saya ikut serta mendampingi
pelatihan dan lomba karya ilmiah di kota Salatiga. Ingin rasanya memberikan hak
kepada anggota tubuh saya untuk merilekskan agar kembali fresh dari kegiatan yang begitu padat. Ada beberapa rekomendasi wisata
dan saya menjatuhkan piihannya ke objek wisata Candi Gedong songo. Setelah
acara tidak begitu padat, siang itu saya langsung menuju ke kota Semarang. dari
Salatiga ke kota Semarang hanya menempuh kurang lebih 1 jam. Objek wisata Candi
Gedong songo merupakan salah satu objek wisata yang ada di kota Semarang,
Tepatnya di dusun Darum, desa Candi, kecamatan Bandungan.
Perjalanannya relatif lancar
karena jalannya sudah bagus dan lokasi Candi Gedong songo sangat mudah
dijangkau. Tepatnya berada pada jarak 39 km dari kota Semarang atau hanya 20
menit perjalanan dengan kendaraan bermotor dalam kecepatan 70 km / jam. Setelah
sampai di daerah Bandungan, kemudian belok ke kiri dan ikuti jalan terus sampai
pasar Bandungan. Sesampainya di Pasar Bandungan ambil arah kiri kurang lebih 7
km sampailah saya di Candi Gedong songo. Setelah melewati pasar, harus lebih
berhati-hati karena jalanannya menyempit hanya pas untuk dua mobil dengan
tanjakan dan kelokan yang tajam. Bahkan di beberapa ruas jalan ada yang
mencapai kimiringan 45 – 50 derajat. Karena itu saya sarankan bagi yang
mempunyai rencana untuk datang ke Candi Gedong songo ini harus lebih berhati –
hati dan memperhatikan kondisi kendaraannya.
![]() |
Keindahan alam Candi Gedong Songo |
Sebelum saya menceritakan perjalanan
saya di Candi Gedung songo. Sebelumya saya ingin menceritakan sejarah Candi
Gedong songo ini. seperti kata pribahasa tak kenal maka tak sayang. Sama halnya
sebuah sejarah ketika kita tak mengetahui sejarah suatu tempat, bagaimana kita
bisa menjaga dan melestarikan kebudayaan kita.
![]() |
Menikmati pesona alam Candi Gedong Songo dari ketinggian |
Candi Gedong songo ditemukan pertama kali oleh Sir
Thomas Stamford Raffles pada tahun 1740 M. Dan pada saat itu Raffles menemukan
sebanyak 7 buah bangunan Candi sehingga dia menamainya dengan Candi Gedong pitu, arti kata “pitu”
dalam bahasa Indonesia adalah tujuh. Penyebutan Candi Gedong pitu bertahan lama hingga
seribu tahunan lebih. Dan pada tahun 1908 – 1911 seorang arkeolog dari belanda
Van Stein Callenfels kembali melakukan penelitian lagi di Candi Gedong pitu.
Dalam kurun waktu 3 tahunan Callenfels menemukan lagi 2 Candi lainnya yang
bertempat tidak jauh dari Candi yang sebelumnya telah ditemukan Raffles
sehingga total kesemuaan Candi yang ditemukan menjadi 9 buah. Dengan
ditemukannya 2 Candi yang lain ini maka nama Candi Gedong pitu berubah menjadi
Candi Gedong songo.
Pemugaran Candi Gedong I dan Candi Gedong II dilakukan
pada tahun 1928 – 1929. Sedangkan pemerintah Indonesia pada tahun 1972 – 1982
melakukan pemugaran total terhadap bangunan Candi Gedong songo. Bahkan
pemugaran area wisata tersebut dilakukan sampai saat ini sehingga semakin
terlihat indah dan rapi namun tanpa merubah struktur bangunan-bangunan candi
yang ada. Menurut penelitian bahwa Candi Gedong songo merupakan bangunan
peninggalan budaya Hindu dari zaman Wangsa Syailendra abad ke-9 (tahun 927
masehi).
Candi Gedong songo seperti
namanya (songo yang artinya sembilan) sama seperti anggapan saya, ketika
pertama kali mendengar nama Candi Gedong songo, candi ini berjumlah sembilan Candi.
Tapi pada kenyataanya, yang tersisa hanya 5 Candi saja yang tersebar di lereng
gunung Ungaran. Ada yang mengatakan 2 Candi lagi hanya tinggal puing akibat
bencana alam longsor. Dan 2 Candi yang lain adalah Candi gaib, hanya orang
‘tertentu’ yang bisa melihatnya. Wallahu’alam. Dari e-book
laporan hasil pemugaran dan temuan cagar budaya PJPI tidak menyebutkan jumlah
pastinya.
![]() |
Istirahat sejenak sambil menikmati pesona alam Candi Gedong Songo |
Nah... itu tadi sedikit sejarah Candi
Gedung songo. Candi Gedong songo
menjadi salah satu tempat wisata yang sangat ramai dikunjungi para wisatawan,
baik wisatawan lokal maupun wisatawan manca negara. Candi Gedong songo terletak di lereng gunung Ungaran bagian
selatan dengan ketinggian sekitar 1.200 m dari permukaan laut sehingga suhu
udara di kawasan wisata ini cukup dingin (berkisar antara 19-27 °C). Memasuki wilayah
Candi ini udara sejuk mulai terasa dengan angin khas pegunungan. Pantas saja katanya kawasan Candi Gedong songo
ini terdapat bioenergi terbaik di Asia. Objek wisata Candi Gedong songo ini akan
menjadikan pengalaman tersendiri bagi para pengunjung karena menyajikan pesona
alam yang indah.
Tempat parkir yang cukup luas
bisa memuat puluhan mobil, serta pintu masuk Candi yang hanya beberapa meter
dari lokasi parkir semakin mempermudah para wisatawan untuk mencapai lokasi
ini. Dengan hanya membayar tiket masuk sebesar Rp. 6.000,- untuk mancanegara
harga tiketnya Rp. 25.000,-. kita bisa memasuki dan mengelilingi lokasi Candi
sepuas-puasnya. Cukup terjangkau dengan sesuatu yang didapatkan nanti.
Selepas gerbang masuk Candi,
berjalan sedikit ke atas sudah terlihat lokasi Candi pertama yang merupakan Candi
yang terletak di lokasi yang paling bawah. Bisa dikatakan kalau Candi Gedong songo
tidak hanya menawarkan wisata sejarah, namun juga menawarkan wisata keindahan
alam juga. Mata ini benar benar dimanjakan sekali dengan pesona alam Candi
Gedong songo. Pesona alam yang disuguhkan di Candi Gedung songo ini memang luar
biasa karena lokasinya yang terletak di ketinggian gunung.
![]() |
Kompleks Candi ke 1 |
Sambil berjalan di depan pintu
masuk biasanya ada orang yang akan mengikuti kita. Tapi jangan takut, biasanya
orang tersebut menawarkan jasa menunggang kuda. Kalau kita ingin menjajal
tingginya candi dengan jalan kaki tolak saja secara halus untuk tidak memakai
kuda, tapi kalau tidak ingin terlalu menguras tenaga untuk berjalan mengelilingi
candi dari yang satu ke yang lain bisa naik kuda dan dikenakan biaya Rp. 40,000,-
per kuda untuk mengelilingi seluruh kawasan Candi. Namun sebagai saran lebih
baik kita naik kuda, karena selain lebih menghemat tenaga, kita bisa leluasa
menikmat indahnya alam sekitar dengan santai. Kalau saya sendiri lebih memilih
jalan kaki sambil menikmati pesona alamnya dan udara yang sejuk, hitung hitung
juga sambil olahraga membakar lemak yang ada di dalam tubuh, sukur sukur pulang
dari sini berat badannya turun hahaha,
Pandangan pertama saya tertuju pada gapura masuk yang
mirip candi, lalu berjalan sebentar akan bertemu dengan tempat pentas dan Candi
Gedong songo I. Yang ingin mengabadikan
perjalanan di Candi Gedong songo ini harap bersabar karna banyak yang akan berfoto
di Candi ini. Untuk yang satu ini wajib
antri dan sabar agar bisa berfoto. Setelah mendapatkan kesempatan untuk berfoto
saya segera melanjutkan perjalanan saya.
![]() |
Kompleks Candi ke II |
Untuk menuju Candi ke II, petualang harus ekstra kuat
dan semangat. Letaknya sekitar 500 meter lebih dari Candi I. saya sempat
berhenti beristirahat beberapa kali cukup menguras tenaga. Pengelola Candi
Gedong songo sepertinya membuat jalur yang memisahkan antara jalur pejalan dan jalur
kuda. Jalur pejalan di belokkan ke kanan, melewati perbukitan dan warung makan.
Beberapa gazebo di siapkan untuk tempat istirahat yang lelah naik ke perbukitan. Jalannya cukup
bersih karena tidak ada kotoran kuda disana-sini. Untuk jalur kuda berada di
sebelah kiri yang letaknya agak berjauhan. Sesampainya di Candi II, akan merasakan perbedaan dengan
Candi yang ke I.
Candi ke II letaknya yang berada di ketinggian sangat bagus untuk eksplore sejarah dan mengabadikan foto. Saya tidak salah pilih untuk menginjakan kaki saya di Candi Gedong songo ini. Karena lagi lagi membuat saya terpesona dengan keindahan alam ini. Sama dengan Candi yang ke I, Candi ke II juga hanya ada 1 buah Candi. Beberapa bekas Candi nampak sangat buruk karena keberadaannya tidak nampak lagi. Entah belum jadi, atau ‘diamankan’ untuk tujuan tertentu.
Candi ke II letaknya yang berada di ketinggian sangat bagus untuk eksplore sejarah dan mengabadikan foto. Saya tidak salah pilih untuk menginjakan kaki saya di Candi Gedong songo ini. Karena lagi lagi membuat saya terpesona dengan keindahan alam ini. Sama dengan Candi yang ke I, Candi ke II juga hanya ada 1 buah Candi. Beberapa bekas Candi nampak sangat buruk karena keberadaannya tidak nampak lagi. Entah belum jadi, atau ‘diamankan’ untuk tujuan tertentu.
![]() |
Batu besar yang letaknya dekat dengan Candi ke 2 |
![]() | |
Bekas Candi yang sudah tak utuh lagi |
![]() |
kompeks candi ke II, dibelakang saya jalan menuju candi berikutnya |
![]() |
Candi ke III |
Kemudian melakukan perjalanan lagi menuju Candi ke IV
yang letaknya agak jauh dari Candi ke II dan ke III. Hanya perlu berjalan
beberapa menit mengintari bukit, maka akan tiba di Candi ke IV. Dan Candi ke V
jaraknya juga tidak jauh dari tempat tersebut. Pada Candi yang ke V, beberapa
bangunan Candi nampak rusak karena sesuatu sehingga hanya sebuah Candi kecil
saja yang tersisa.
Setelah lelah berpetualang, pasti merasakan lapar dan
haus. Tak masalah, di sekitar Candi Gedong songo atau Bandungan banyak tersedia
kuliner khas Ungaran. bisa menikmati sate kelinci yang sedap dengan merogoh
dompet sebesar Rp. 15.000,-. atau wedang ronde (minuman) yang hangat. Dan
ada juga tahu serasi khas Ungaran disajikan bersama dengan hangatnya sari
kedelai yang manis. Jangan lupa membeli gula kacang yang tersedia di toko-toko
terdekat. Bisa juga membeli aneka sayur dan buah segar di pasar tradisional
Bandungan, lalu berbelanja beragam tamanan hias dan bunga-bunga langka yang
indah disini juga ada.
Oh iya bagi yang ingin mencari penginapan, di sekitar
daerah Bandungan banyak terdapat penginapan barangkali hanya untuk sekedar melepas
lelah atau ingin bermalam. Dan penginapan disini relatif murah dari harga Rp. 50.000,-
kita sudah bisa beristirahat di daerah Bandungan.
Waah, jadi pengen ke Candi Gedong Songo. Nice infonya Mas
BalasHapusKalau ini sepertinya rekomended buat mas edy yang suka wisata, alam, bisa di agendakan mas edy...
BalasHapusJadi penasaran sama candi gaib itu. Keren kali ya kalo bisa keliatan hehehe
BalasHapusSaya baru tahu jika ada candi gedong songo.
BalasHapusBisa di keep infomasi ini mungkin ada kesempatan ke sana.